IntermeZZo


Menjelang magrib, saat penduduk bersiap pulang dari ladang, dari arah padang penggembalaan terdengar teriakan panik seorang laki-laki. “Tolong … tolong … harimau…!!!” Namun aneh, teriakan itu tidak mendapat respon seorang pun.

Mengamuklah seekor harimau betina besar. Dengan ganas, dia mengejar kerbau. Tetapi karena kawanan itu bersatu-padu, harimau itu merasa jeri, lalu mengganti sasarannya: si pemuda gembala. Mendapat serangan tersebut, si pemuda hanya bisa berlari semampunya. Dan malang, kecepatan dan kekuatannya tidak sebanding dengan harimau. Dia diterkam dan mati mengenaskan.

Besok pagi, penduduk berdatangan ke padang. Mereka terkejut mendapati si gembala sudah tinggal kerangka rusak dengan sisa-sisa cabikan yang mengerikan. Terdengar celutukan di sana sini, “Inilah hasil dari sebuah keisengan. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan pernah berlaku iseng dan kurang ajar.”

Muasal terjadinya peristiwa naas masih segar dalam ingatan penduduk. Setiap keluarga memiliki sedikitnya seekor kerbau. Tapi karena pekerjaaan merekaadalah bertani, mereka pun kesulitan menggembalakan kerbau-kerbau itu. Maka, mereka semufakat mengangkat seorang pemuda dengan tugas khusus menggembalakan semua kerbau di padang penggembalaan yang tak jauh letaknya dari pemukiman dan perladangan.

Awalnya, pemuda itu menerima tanggungjawabnya dengan sukacita. Dengan penuh semangat, si pemuda setiap hari membawa ternak-ternak itu ke padang, menuntun dan memberi makan, memandikannya sambil bermain suling, bersenandung, dan menari.

Namun, karena tugas tersebut dilakoninya setiap hari sebagai rutinitas, lama-lama timbullah rasa bosan dan jenuh. Ia pun mulai mengeluh, kehilangan keceriaan, sering ketiduran, dan mulai menelantarkan kerbau-kerbau gembalaannya.


Suatu hari, timbullah rasa isengnya. Dia ingin mempermainkan penduduk. Caranya? Dia berlari kencang ke arah ladang sambil berteriak dengan suara menakutkan: “Harimau … harimau… harimau … selamatkan kerbau!!!”

Penduduk terkejut. Segera mereka bangkit dengan cangkul, golok, garu, dan benda tajam apa saja yang bisa diraih, berlari ke padang, membantu si gembala mengusir harimau.

Tetapi apa lacur? Tidak ada harimau! Kawanan kerbau yang katanya sedang diserang harimau ternyata tenang-tenang saja merumput. Mereka melihat ke sekeliling, mencari si pemuda, dan si pemuda malah tertawa terbahak-bahak. “Hua… hua…ha…ha…ha, kalian kena tipu, harimau jauh di hutan, aku cuma iseng, hua…hua…ha…ha…ha …”

Penduduk kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun kembali ke ladang masing-masing disertai gerutuan.

Dia pun tersenyum puas penuh kemenangan. Esok hari, keisengan si gembala timbul lagi. Dengan tergopoh-gopoh, dia kembali berlari ke ladang dan berteriak, “Harimau datang… harimau datang…kerbau dikejar, diterkam, dimangsa!!!”

Penduduk pun bangkit lagi, dengan tergesa-gesa sambil membawa segala macam senjata mereka menuju ke padang. Namun mereka kecewa kembali. Tidak ada harimau. Dan lagi-lagi si pemuda kurang ajar ini tergelak-gelak bahagia karena dapat mempermainkan penduduk kedua kalinya.

Dan itulah sebabnya ketika harimau benar-benar datang, tidak ada seorangpun yang tergerak untuk memberikan bantuan.

*****

Pembaca yang budiman, jangan pernah bermain-main dalam bekerja. Pekerjaan yang sudah diamanahkan kepada kita, sama seperti si pemuda mendapat amanah menggembalakan sapi, harus kita tunaikan dengan sungguh-sungguh. Sikap kurang ajar, iseng, jahil, berarti tidak bertanggungjawab, tidak profesional, dan dapat menimbulkan bencana.

Bisnis adalah keseriusan. Berapa nilai bisnis Anda? Mungkin puluhan juta, ratusan juta, puluhan miliar, atau bahkan triliunan. Satu hal harus selalu diingat: betapa kecil pun itu, kita harus mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, sepenuh tanggungjawab.

Kita tidak bisa memprediksi datangnya bencana. Bahaya selalu mengintai dari balik pintu dan siap menerkam kita. Yang bisa dilakukan hanyalah mengembangkan sikap waspada dan jangan membiarkan keisengan menjadi malapetaka. Pupuklah sikap menangani pekerjaan dengan sepenuh hati, serius, sebaik-baiknya, disertai dengan rasa tanggungjawab yang besar. Niscaya, itulah yang akan menyelamatkan dan menjadi kunci sukses dalam pekerjaan kita. Inilah inti Etos 2: Kerja adalah amanah yang harus kita tunaikan dengan benar sepenuh tanggungjawab.

Iklan
baru-nikah2
Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Rupanya di rumah ini baru saja ada pesta. Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja: kado-kado yang ada di ruang tamu langsung mereka angkut. Dari ruang makan, peralatan masak dan makan yang masih baru-baru habis mereka gotong.

Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.

Kisah ini dimulai pagi tadi: sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.

Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang pengantin.

Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin malam. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, “Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar, tutup pintunya ya.”

Tetapi istrinya menjawab, “Kamu ini gimana sih, aku kan capek juga, kamu aja yang turun.”

“Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Brengsek! Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya!” balas si suami dengan suara tinggi.

Si istri tak mau kalah dan dengan kasar ia menyembur, “Sialan kamu, baru berapa jam jadi suamiku, sudah kayak raja memerintah seenak perut, main bentak. Emangnya aku budakmu, apa?”

Mereka pun bertengkar panjang lebar sambil mempertahankan argumentasi masing-masing, siapa yang seharusnya menutup pintu.

Tak tahan, akhirnya si suami berkata, “Sudah, sudah, aku capek. Gini aja: kita saling diam, tidur, dan siapa yang duluan ngomong, diayang harus menutup pintu.””

Mereka berdua pun menutup mulut rapat-rapat. Mereka pura-pura tidur, namun sebenarnya keduanya tidak bisa tidur karena saling mengintip, siapakah yang bakal kalah dalam pertarungan ego besar ini.

Saat itulah para perampok beraksi.

Ketika perampok itu sudah pergi agak jauh, si istri tidak tahan lagi lalu menyemburkan makian penuh amarah, “Lelaki guooobloook! Kamu ini gimana siiih? Sudah tahu rumah dirampok, masih aja diam kuaayak bangkeee!”

Tetapi si suami menjawab tenang dengan perasaan bahagia, “Haaa, aku menang! Sekarang, kamu turun! Tutup pintunya!” /p>

*****

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini. Namun satu aspek saja yang ingin saya sampaikan: maulah sedikit repot, turun tangan mengerjakan tugas-tugas yang patut dikerjakan, dan janganlah saling melempar tanggungjawab.

Ketika pengantin malang tersebut berjanji sehidup-semati, pasti tak ada kontrak yang berisi job description yang rinci: siapa harus menutup jendela, mengunci pintu, mengambil air, melipat selimut, memasak nasi, dan berbagai tugas rumahtangga lainnya.

Tetapi karena keduanya kebetulan pemalas dan suka melempar tanggungjawab, dalam kelelahan mereka, masing-masing mengharapkan pasangannyalah yang seharusnya mengerjakan ini dan itu. Tak terhindarkan, kejadian tragis di atas pun terjadi. Bukan cuma itu, seluruh kebahagiaan mereka sebagai pengantin baru lenyap seketika.

Di kantor, banyak sekali hal yang tidak dirumuskan dalam job description kita. Namun bila ada pekerjaan yang mendadak muncul—padahal kita tahu jika tidak segera dikerjakan akan menimbulkan kerugian atau bahaya bagi perusahaan—maka wajiblah kita mengerjakannya tanpa harus berharap apa imbalannya, berapa honornya, atau bagaimana uang lemburnya. Kita harus mengerjakannya karena rasa tanggung jawab, karena rasa peduli. Sebagai warga organisasi, kita turut menjadi pemilik, sedikitnya, harus ada rasa memiliki,sebuah rasa yang muncul karena kita diserahi amanah menjaga organisasi. Inilah arti Etos 2: amanah mengharuskan kita peduli, merawat, dan bertanggungjawab.

kumis11

Tersebutlah seorang pria bernama Nasrudin. Ia sahabat karib raja. Suatu hari, tergopoh-gopoh ia berlari ke istana. Dengan napas tersengal-sengal ia melapor, “Celaka baginda, celaka, celaka.” “Lho, ada apa Nasrudin, pagi-pagi kau kok sudah panik? Kenapa wajahmu pias begitu, seolah-olah dunia mau kiamat ?” “Yah, memang dunia mau kiamat, baginda. Tuhan sedang murka kepada dunia, Tuhan akan membinasakan kita semua!” “Lho, lho, lho, tunggu dulu; kok berkesimpulan begitu ?” tanya raja menyergah. “Baginda, begitu bangun dari tidur, aku mencium dunia sangat bau. Di mana-mana bau busuk. Di kamar, bau. Kudekati istriku, bau juga. Di kamar tamu, sama saja, semua bau. Aku keluar rumah, ternyata juga bau. Pohon-pohon bau, rumput-rumput bau, pagar bau, tetangga bau, semua membusuk, bau. Celaka baginda, Tuhan mulai menghukum dunia, ini kiamat !” “Tenang Nasrudin, tenang, tenang. Tarik nafas dalam-dalam. Minum dulu,” raja menghibur seraya mengangsurkan segelas air. Sesudah Nasrudin agak tenang, raja berkata lagi, “Sekarang, pergilah ke toilet dan bersihkan dirimu. Dan yang terpenting, bilas kumismu!” Nasrudin menurut. Seluruh kepala, rambut, dan wajahnya dia cuci dan bilas dengan sabun wangi. Aneh bin ajaib, tak ada lagi bau busuk. Dia bingung, semuanya normal kembali. Bahkan, yang tercium sekarang cuma semerbak wangi. Nasrudin menghadap raja, “Baginda, ini tak masuk akal, ke mana bau busuk tadi ?” Raja terpingkal-pingkal. “Ha-ha-ha, Nasrudin, Nasrudin, sebenarnya tidak ada bau busuk. Bau yang kamu cium sejak tadi sebenarnya berasal dari kumismu. Coba ceritakan, semalam kamu tidur di mana, tidur dengan siapa, sehingga kumismu bau begitu ?” Terperanjat, Nasrudin mulai mengingat-ingat kejadian semalam. Ketika hampir nyenyak, entah bagaimana asal mulanya, anak bungsunya memegang kotorannya sendiri, lalu memoles-moleskannya ke kumis bapaknya yang lebat. Itulah biang bau yang membuat Nasrudin sangat panik. Nasrudin pun kembali ke rumahnya dan yakin bahwa dunia tidak busuk seperti yang tadi dia sangka. ***** Banyak orang merasa dunia ini kotor, negeri ini jorok; mencium bangsa ini busuk, politikus itu tengik; atau merasa otak bos itu kumuh, perusahaan ini kacau. Mungkin saja itu benar, tapi mungkin juga tidak. Bisa jadi perasaan, penglihatan, dan penciuman semacam itu cuma disebabkan oleh ‘´kumis´ kita yang tercemar. Maka seruan umum ialah, hendaklah kita rutin membersihkan kumis sendiri. Itu berarti kita harus membebaskan hati dan pikiran kita dari prasangka-prasangka negatif, konsep-konsep yang belum tentu benar, teori-teori yang belum terbukti, atau kabar-kabar kabur sebelum kita menilai dan menghakimi orang lain, perusahaan kita, dan dunia ini. Jika kita menggunakan indera yang suci murni niscaya kita akan melihat perkara-perkara yang suci dan murni pula. Dengan cara begitu kita bahkan dapat melihat Tuhan dengan segenap rahmah, berkah, dan anugerah yang melimpah. Orang kadang bertanya: di manakah Tuhan sang mahamurah itu? Di manakah Dia sang pengasih lagi penyayang itu? Ada pula yang berkata: pekerjaanku bukan karunia-Nya, melainkan usahaku sendiri saja. Namun, bisa jadi pendapat-pendapat demikian berasal dari “kumis” yang terkontaminasi. Orang bijak bilang: kalau kita menjernihkan hati dan membeningkan jiwa maka kita akan melihat the invisible hands of God yang memelihara, yang menuntun, dan yang membantu kita. Kita akan melihat begitu banyak rahmat di dalam dan melalui pekerjaan kita. Mata batin yang bening mampu melihat sampai ke jantungnya, sampai ke hakikat kenyataan yang terdalam. Itulah yang memampukan kita untuk bergaul mesra dengan rahmat, hidup akrab bersama anugerah, dan berkolaborasi erat dengan roh kebaikan semesta sehingga kita mampu menikmatinya, bahkan turut memproduksi pelbagai kebajikan. Itulah esensi Etos 1: Kerja adalah Rahmat; Aku berkerja tulus penuh rasa syukur.