kumis11

Tersebutlah seorang pria bernama Nasrudin. Ia sahabat karib raja. Suatu hari, tergopoh-gopoh ia berlari ke istana. Dengan napas tersengal-sengal ia melapor, “Celaka baginda, celaka, celaka.” “Lho, ada apa Nasrudin, pagi-pagi kau kok sudah panik? Kenapa wajahmu pias begitu, seolah-olah dunia mau kiamat ?” “Yah, memang dunia mau kiamat, baginda. Tuhan sedang murka kepada dunia, Tuhan akan membinasakan kita semua!” “Lho, lho, lho, tunggu dulu; kok berkesimpulan begitu ?” tanya raja menyergah. “Baginda, begitu bangun dari tidur, aku mencium dunia sangat bau. Di mana-mana bau busuk. Di kamar, bau. Kudekati istriku, bau juga. Di kamar tamu, sama saja, semua bau. Aku keluar rumah, ternyata juga bau. Pohon-pohon bau, rumput-rumput bau, pagar bau, tetangga bau, semua membusuk, bau. Celaka baginda, Tuhan mulai menghukum dunia, ini kiamat !” “Tenang Nasrudin, tenang, tenang. Tarik nafas dalam-dalam. Minum dulu,” raja menghibur seraya mengangsurkan segelas air. Sesudah Nasrudin agak tenang, raja berkata lagi, “Sekarang, pergilah ke toilet dan bersihkan dirimu. Dan yang terpenting, bilas kumismu!” Nasrudin menurut. Seluruh kepala, rambut, dan wajahnya dia cuci dan bilas dengan sabun wangi. Aneh bin ajaib, tak ada lagi bau busuk. Dia bingung, semuanya normal kembali. Bahkan, yang tercium sekarang cuma semerbak wangi. Nasrudin menghadap raja, “Baginda, ini tak masuk akal, ke mana bau busuk tadi ?” Raja terpingkal-pingkal. “Ha-ha-ha, Nasrudin, Nasrudin, sebenarnya tidak ada bau busuk. Bau yang kamu cium sejak tadi sebenarnya berasal dari kumismu. Coba ceritakan, semalam kamu tidur di mana, tidur dengan siapa, sehingga kumismu bau begitu ?” Terperanjat, Nasrudin mulai mengingat-ingat kejadian semalam. Ketika hampir nyenyak, entah bagaimana asal mulanya, anak bungsunya memegang kotorannya sendiri, lalu memoles-moleskannya ke kumis bapaknya yang lebat. Itulah biang bau yang membuat Nasrudin sangat panik. Nasrudin pun kembali ke rumahnya dan yakin bahwa dunia tidak busuk seperti yang tadi dia sangka. ***** Banyak orang merasa dunia ini kotor, negeri ini jorok; mencium bangsa ini busuk, politikus itu tengik; atau merasa otak bos itu kumuh, perusahaan ini kacau. Mungkin saja itu benar, tapi mungkin juga tidak. Bisa jadi perasaan, penglihatan, dan penciuman semacam itu cuma disebabkan oleh ‘´kumis´ kita yang tercemar. Maka seruan umum ialah, hendaklah kita rutin membersihkan kumis sendiri. Itu berarti kita harus membebaskan hati dan pikiran kita dari prasangka-prasangka negatif, konsep-konsep yang belum tentu benar, teori-teori yang belum terbukti, atau kabar-kabar kabur sebelum kita menilai dan menghakimi orang lain, perusahaan kita, dan dunia ini. Jika kita menggunakan indera yang suci murni niscaya kita akan melihat perkara-perkara yang suci dan murni pula. Dengan cara begitu kita bahkan dapat melihat Tuhan dengan segenap rahmah, berkah, dan anugerah yang melimpah. Orang kadang bertanya: di manakah Tuhan sang mahamurah itu? Di manakah Dia sang pengasih lagi penyayang itu? Ada pula yang berkata: pekerjaanku bukan karunia-Nya, melainkan usahaku sendiri saja. Namun, bisa jadi pendapat-pendapat demikian berasal dari “kumis” yang terkontaminasi. Orang bijak bilang: kalau kita menjernihkan hati dan membeningkan jiwa maka kita akan melihat the invisible hands of God yang memelihara, yang menuntun, dan yang membantu kita. Kita akan melihat begitu banyak rahmat di dalam dan melalui pekerjaan kita. Mata batin yang bening mampu melihat sampai ke jantungnya, sampai ke hakikat kenyataan yang terdalam. Itulah yang memampukan kita untuk bergaul mesra dengan rahmat, hidup akrab bersama anugerah, dan berkolaborasi erat dengan roh kebaikan semesta sehingga kita mampu menikmatinya, bahkan turut memproduksi pelbagai kebajikan. Itulah esensi Etos 1: Kerja adalah Rahmat; Aku berkerja tulus penuh rasa syukur.