baru-nikah2
Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Rupanya di rumah ini baru saja ada pesta. Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja: kado-kado yang ada di ruang tamu langsung mereka angkut. Dari ruang makan, peralatan masak dan makan yang masih baru-baru habis mereka gotong.

Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.

Kisah ini dimulai pagi tadi: sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.

Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang pengantin.

Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin malam. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, “Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar, tutup pintunya ya.”

Tetapi istrinya menjawab, “Kamu ini gimana sih, aku kan capek juga, kamu aja yang turun.”

“Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Brengsek! Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya!” balas si suami dengan suara tinggi.

Si istri tak mau kalah dan dengan kasar ia menyembur, “Sialan kamu, baru berapa jam jadi suamiku, sudah kayak raja memerintah seenak perut, main bentak. Emangnya aku budakmu, apa?”

Mereka pun bertengkar panjang lebar sambil mempertahankan argumentasi masing-masing, siapa yang seharusnya menutup pintu.

Tak tahan, akhirnya si suami berkata, “Sudah, sudah, aku capek. Gini aja: kita saling diam, tidur, dan siapa yang duluan ngomong, diayang harus menutup pintu.””

Mereka berdua pun menutup mulut rapat-rapat. Mereka pura-pura tidur, namun sebenarnya keduanya tidak bisa tidur karena saling mengintip, siapakah yang bakal kalah dalam pertarungan ego besar ini.

Saat itulah para perampok beraksi.

Ketika perampok itu sudah pergi agak jauh, si istri tidak tahan lagi lalu menyemburkan makian penuh amarah, “Lelaki guooobloook! Kamu ini gimana siiih? Sudah tahu rumah dirampok, masih aja diam kuaayak bangkeee!”

Tetapi si suami menjawab tenang dengan perasaan bahagia, “Haaa, aku menang! Sekarang, kamu turun! Tutup pintunya!” /p>

*****

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini. Namun satu aspek saja yang ingin saya sampaikan: maulah sedikit repot, turun tangan mengerjakan tugas-tugas yang patut dikerjakan, dan janganlah saling melempar tanggungjawab.

Ketika pengantin malang tersebut berjanji sehidup-semati, pasti tak ada kontrak yang berisi job description yang rinci: siapa harus menutup jendela, mengunci pintu, mengambil air, melipat selimut, memasak nasi, dan berbagai tugas rumahtangga lainnya.

Tetapi karena keduanya kebetulan pemalas dan suka melempar tanggungjawab, dalam kelelahan mereka, masing-masing mengharapkan pasangannyalah yang seharusnya mengerjakan ini dan itu. Tak terhindarkan, kejadian tragis di atas pun terjadi. Bukan cuma itu, seluruh kebahagiaan mereka sebagai pengantin baru lenyap seketika.

Di kantor, banyak sekali hal yang tidak dirumuskan dalam job description kita. Namun bila ada pekerjaan yang mendadak muncul—padahal kita tahu jika tidak segera dikerjakan akan menimbulkan kerugian atau bahaya bagi perusahaan—maka wajiblah kita mengerjakannya tanpa harus berharap apa imbalannya, berapa honornya, atau bagaimana uang lemburnya. Kita harus mengerjakannya karena rasa tanggung jawab, karena rasa peduli. Sebagai warga organisasi, kita turut menjadi pemilik, sedikitnya, harus ada rasa memiliki,sebuah rasa yang muncul karena kita diserahi amanah menjaga organisasi. Inilah arti Etos 2: amanah mengharuskan kita peduli, merawat, dan bertanggungjawab.